Di tahun 2012, saya lulus kuliah di Jepang dan langsung ikut proses shuushoku katsudou — berburu kerja ala mahasiswa Jepang, dengan setelan hitam, kemeja putih, dasi, dan tas jinjing kulit yang beli khusus untuk keperluan itu.
Saya mengikuti company seminar. Saya pergi ke Tokyo untuk wawancara. Saya menghabiskan tabungan untuk transport dan akomodasi. Dan di akhir seluruh proses itu, saya pulang dengan tangan kosong.
Bukan hanya saya. Teman-teman saya dari berbagai negara juga banyak yang tidak lolos. Tapi ketika satu per satu mulai mendapat pekerjaan, sementara saya masih menunggu di Beppu, rasanya seperti jadi orang yang tertinggal di peron sementara kereta sudah berangkat.
Saya patah semangat. Saya mulai meragukan kemampuan saya sendiri.
Kalau saya mau membingkai pengalaman itu sebagai kegagalan, sangat mudah.
Saya gagal mendapat pekerjaan di Jepang. Saya gagal bersaing dengan teman-teman yang sama-sama berjuang. Dan akhirnya, saya harus pulang ke Indonesia dengan pekerjaan yang “hanya” ada di Jakarta — bukan di kota yang saya targetkan.
Tapi cara membingkai itulah yang akhirnya saya lepaskan.
Karena kalau saya mau membingkai pengalaman yang sama sebagai keberhasilan, itu juga mungkin. Saya pulang ke Indonesia dengan pekerjaan di tangan, bahkan sebelum wisuda. Saya melihat peluang bahwa di Indonesia, karier saya bisa bergerak lebih cepat karena ekonominya yang sedang berkembang. Dan ternyata, itu terbukti.
Tidak ada yang berubah dari faktanya. Yang berubah hanya perspektifnya.
Tapi saya tidak mau menyederhanakan ini.
Karena ada fase antara gagal dan membingkai ulang yang sering dilewatkan ketika orang berbicara tentang bangkit dari kegagalan. Fase itu namanya: berduka.
Rasa kecewa itu nyata. Rasa malu itu nyata. Rasa marah pada diri sendiri karena merasa seharusnya bisa melakukan lebih — itu semua nyata dan manusiawi. Kamu tidak perlu segera move on dan “ambil positifnya”. Kamu boleh sedih dulu.
Yang berbahaya bukan berdukanya. Yang berbahaya adalah membiarkan berduka itu menjadi identitas.
Ada perbedaan besar antara “saya sedang gagal” dengan “saya adalah orang yang gagal.” Yang pertama menggambarkan situasi sementara. Yang kedua menggambarkan siapa kamu. Dan yang kedua, kalau terlalu lama dipegang, akan memengaruhi cara kamu memulai lagi.
Di buku Lagi Probation, saya mengundang dr. Jiemi Ardian — seorang psikiater dan hipnoterapis — untuk menulis tentang kegagalan dari sisi psikologis.
Satu hal yang ia tulis dan selalu saya ingat: usaha yang gagal bukan berarti kita manusia yang gagal. Kita, sebagai manusia, juga bisa mengalami usaha yang gagal.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi untuk orang yang sedang dalam proses melamar kerja ke-15 dengan 14 penolakan sebelumnya, kalimat itu bisa terasa seperti napas.
Ada hal-hal yang di luar kendalimu.
Saya mau kamu pegang ini baik-baik, bukan sebagai alasan untuk tidak berusaha, tapi sebagai pengingat yang jujur tentang sifat dasar proses rekrutmen.
Mood recruiter saat mewawancaraimu — bukan kendalimu. Keputusan internal perusahaan untuk membekukan hiring di saat kamu sudah sampai tahap akhir — bukan kendalimu. Ada kandidat internal yang tiba-tiba masuk pertimbangan — bukan kendalimu.
Yang dalam kendalimu: seberapa baik CV kamu mewakili kemampuanmu. Seberapa siap kamu masuk ke ruang wawancara. Seberapa cepat kamu bangkit dan mencoba lagi.
Fokus di sana.
Satu hal praktis untuk kamu yang sedang dalam proses melamar:
Jangan hanya melamar ke perusahaan yang kamu inginkan. Lamar juga ke perusahaan yang bukan prioritas utama — bukan karena kamu berniat menerima tawarannya, tapi karena wawancara adalah skill yang dibangun lewat latihan.
Wawancara ke-10 kamu akan jauh berbeda dari wawancara ke-1. Dan jam terbang itu tidak bisa didapat dengan cara lain.
Untuk kamu yang sudah baca bukunya: bagian “Fail Forward” di Chapter X adalah bagian yang paling banyak DM masuk ke saya setelah buku ini terbit. Banyak yang bilang itu yang paling relevan dengan pengalaman mereka.
Saya senang sekali mendengarnya, tapi saya juga jujur: saya menulis bagian itu bukan dari posisi orang yang sudah melaluinya dengan mulus. Saya menulisnya dari posisi orang yang masih ingat betul rasanya tertinggal sendirian menunggu kabar, sementara orang-orang di sekeliling sudah melangkah maju.
Kalau sekarang kamu sedang ada di titik itu — tunggu. Langkahmu akan datang. Tapi sementara menunggu, pastikan kamu terus bergerak.
Artikel ini terinspirasi dari Chapter X buku Lagi Probation (2020).