Waktu saya pertama kali disuruh bikin CV, saya pikir tugasnya adalah menulis selengkap mungkin.
Semua prestasi masuk. Semua pengalaman organisasi. Semua skill yang pernah saya pelajari, termasuk Microsoft Office yang “advanced” itu — padahal advanced-nya cuma bisa bikin tabel dan pakai VLOOKUP sekali-kali.
Hasilnya: CV tiga halaman yang, kalau saya jujur sekarang, lebih mirip memoir daripada dokumen profesional.
Dan hasilnya? Banyak yang tidak dipanggil.
Beberapa tahun bekerja di HR, saya akhirnya ngerti masalahnya.
CV bukan otobiografi. CV adalah brosur.
Beda tujuannya. Brosur tidak mencoba menceritakan semuanya — brosur mencoba membuat orang tertarik untuk datang. Cukup informasi untuk memanggil, tidak lebih.
Seorang recruiter bisa menerima ratusan CV dalam sehari. Waktu yang ia punya untuk membaca satu CV? Beberapa detik saja. Dalam rentang waktu itu, ia tidak sedang mencari tahu siapa kamu seutuhnya. Ia hanya mencari satu hal: apakah ada alasan untuk memanggil orang ini?
Kalau dalam beberapa detik itu tidak ada yang menonjol, CV kamu masuk tumpukan berikutnya.
Jadi apa yang harusnya ada di brosur ini?
Yang recruiter perlu tahu, bukan semua yang pernah kamu lakukan.
Pertama: relevansi. CV yang baik bukan CV yang paling panjang atau yang paling penuh pencapaian. CV yang baik adalah CV yang membuat recruiter berpikir, “orang ini sepertinya bisa mengerjakan pekerjaan yang sedang saya cari.” Artinya, kamu perlu tahu dulu posisi apa yang sedang kamu lamar, dan pastikan CV kamu berbicara langsung ke kebutuhan itu.
Ini yang sering dilupakan: satu CV untuk semua lamaran adalah strategi yang lemah. CV untuk posisi HR tidak harus sama dengan CV untuk posisi marketing, meskipun kamu melamar dua-duanya.
Kedua: prestasi, bukan sekadar tugas. Ada perbedaan besar antara menulis “bertanggung jawab atas rekrutmen karyawan” dengan “mengisi 12 posisi dalam satu kuartal dengan tingkat retensi 90%.” Yang pertama menjelaskan jobdesc. Yang kedua menjelaskan dampak. Recruiter yang baik selalu mencari yang kedua.
Ketiga: panjang. Dua halaman. Tidak lebih. Ini bukan soal seberapa banyak pengalamanmu — ini soal kemampuan kamu meringkas yang paling penting. Kalau CV kamu tiga halaman, itu bukan tanda kamu berpengalaman. Itu tanda kamu belum tahu mana yang benar-benar penting.
Soal format dan layout, pertanyaan ini sering masuk ke DM saya.
“Ko, pakai template yang mana?” “CV kreatif atau CV biasa?”
Saya selalu menjawab: format adalah nomor dua, konten adalah nomor satu.
Pilih template yang bersih dan mudah dibaca. Ada banyak template gratis yang bagus di Canva, Google Docs, atau bahkan sekarang bisa minta tolong AI buatin. Yang penting: teks-nya terbaca dengan jelas, hierarki informasinya logis, dan tidak ada elemen desain yang justru mengalihkan perhatian dari isinya.
Untuk posisi di industri kreatif, CV yang lebih visual mungkin relevan — tapi untuk posisi lain, CV klasik dua halaman tetap yang paling aman.
Satu hal lagi yang sering saya lihat: orang menaruh foto di CV untuk alasan yang kurang tepat.
Di beberapa negara, foto di CV sudah tidak umum karena berisiko bias. Di Indonesia, masih banyak yang melakukannya — dan itu tidak salah. Tapi kalau kamu menaruh foto, pastikan fotonya profesional: latar polos, ekspresi serius tapi tidak kaku, pakaian yang sesuai. Bukan foto profil Instagram.
Kamu yang sudah baca Lagi Probation mungkin ingat bagian ini.
Saya menulis bahwa CV adalah jendela kecil yang dipakai recruiter untuk mencoba mengenali siapa kamu. Dan karena jendelanya kecil, kamu harus memilih dengan tepat apa yang ingin kamu tampilkan di sana.
Tapi ada satu hal yang tidak saya tulis di buku, dan saya mau sampaikan di sini:
CV yang bagus membuka pintu. Yang membuat kamu masuk ke dalamnya adalah kamu sendiri.
Jadi jangan habiskan semua energi kamu untuk menyempurnakan CV sampai titik koma — habiskan energi yang sama untuk memastikan kamu siap ketika pintu itu terbuka.
Naskah CV kamu bisa saya bantu review lewat DM, kalau mau. Tidak perlu bayar, cukup cerita posisi apa yang sedang kamu lamar.
Artikel ini terinspirasi dari Chapter IV buku Lagi Probation (2020). Kalau kamu belum baca bukunya, cari di Gramedia ya.